Bahan Makanan Penyumbang Deflasi NTB
Mataram (Global FM Lombok) –
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, H. Seogarenda, mengungkapkan, bulan maret 2011, terjadi deflasi gabungan kota Mataram dan kota Bima sebesar 1,12 persen. Deflasi terjadi akibat penurunan pada kelompok bahan makanan sebesar 4,24 persen. Sementara, kelompok lainnya mengalami kenaikan atau inflasi, seperti kelompok sandang 0,58 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, bahan bakar 0,31 persen, kelompok kesehatan 0,24 persen dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok, tembakau 0,22 persen.
“ Selain itu, terjadi inflasi pada kelompok transport, komunikasi, jasa keuangan 0,10 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi, olahraga 0,01 persen. “ sebut H. Soegarenda, kepada wartawan, di kantornya, Jum’at (1/4).
Soegarenda memaparkan, kota Mataram mengalami deflasi bulan maret 2011 sebesar 1,23 persen dan kota Bima 0,70 persen. Lanju inflasi tahun ke tahun kota Mataram bulan maret 2011 terhadap maret 2010 sebesar 8,47 persen. Sementara, laju inflasi tahun ke tahun kota Bima bulan maret 2011 terhadap 2010 sebesar 5,41 persen. Terjadinya deflasi di suatu daerah menandakan kondisi yang semakin membaik, karena tidak terjadi kenaikan harga-harga, khususnya bahan makanan di NTB.
Dari 66 kota se-Indonesia yang menghitung Indeks Harga Konsumen (IHK) lanjut Seogarenda, tercatat 14 kota mengalami inflasi dan 52 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Palu sebesar 0,67 persen dan terendah di kota Banjarmasin 0,01 persen. Sementara deflasi tertinggi terjadi di kota Padang sebesar 2,59 persen dan terkecil di kota Jakarta 0,01 persen.
Di wilayah Bali dan Nusa Tenggara dari 5 kota yang menghitung IHK, tercatat 3 kota mengalami inflasi, yakni Maumere 0,57 persen, Kupang 0,14 persen dan Denpasar 0,24 persen. Sedangkan 2 kota mengalami deflasi, yaitu kota Mataram 1,23 persen dan kota Bima 0,70 persen. (ozi)

Comments
Post new comment