Skip to Content

Komunitas Adat Masyarakat Bangko-Bangko Minta Tanah Adat Dibebaskan

 
Mataram (Global FM Lombok)-
 
Puluhan masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dan komunitas adat masyarakat Bangko-Bangko Kabupaten Lombok Barat (Lobar), Selasa (24/10) menggelar hearing dengan Sekretaris Daerah (Sekda) NTB. Komonitas adat yang dipimpin L. Ranggalawe itu menggunakan pakaian adat lengkap. Beberapa perwakilan LPPM dan komunitas itu diterima Sekda NTB, H. M. Nur, Asisten I Tata Praja, H. M. Nasibun, Kepala Dinas Kehutan (Dishut) NTB, Hartina, dan kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) NTB, Edy Sutyarto.

 
Dalam hearing tersebut, sempat terjadi adu mulut antara Ketua dan Sekjen LPPM dan Komunitas adat masyarakat bangko-bangko dengan Sekda NTB dan jajarannya. Adu mulut tersebut terkait perundang-undangan tentang kawasan konservasi hutan. Akhirnya ada kesepakatan berupa pengukuran lahan kawasan konservasi hutan dengan tanah adat milik masyarakat bangko-bangko. Bila hasil pengukuran ulang ditemukan masyarakat masuk kawasan konservasi, maka masyarakat harus meninggalkan kawasan tersebut. Tetapi, jika di luar kawasan, masyarakat bebas mengelolanya.
 
Tapi, belum selesai isi kesepakatan ditulis, Ketua dan Sekjen LPPM dan komunitas adat masyarakat bangko-bangko menolak isi kesepakatan itu. Sebab, setelah diteliti, isi kesepakatan itu malah merugikan mereka. Mereka ingin, agar setelah pengukuran ulang lahan, apabila kawasan konservasi masuk ke tanah adat, maka kawasan itu harus dilepaskan dan menjadi milik komunitas adat. Tentu saja Sekda NTB dan jajarannya menolak hal tersebut, karena dinilai tidak sesuai dengan UU dan peraturan yang ada.
 
Sekda NTB, H. M. Nur, menegaskan, sesuai UU dan peraturan yang ada yang berhak atas konservasi hutan, yakni pemerintah pusat. Artinya, komunitas adat hendaknya memperjuangkan hal tersebut ke pemerintah pusat dengan terlebih dahulu berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat. Komunitas adat dapat mengajukan ke pemerintah pusat maupun melalui jalur hukum, yakni secara private. Sebab, ada dua jalur hukum yang bisa ditempuh, yakni secara normative dan private. Jika melalui normative, maka jelas tidak bisa diajukan.
 
Ketua LPPM dan komunitas adat masyarakat bangko-bangko, L. Ranggawale, mengatakan, pihaknya meminta agar Gubernur NTB menyetujui pelepasan tanah komunitas adat masyarakat Bangko-Bangko seluas 447 hektar dari 2.610,17 hektar yang menjadi kawasan konservasi hutan. Sebab, tanah itu sejak dahulu telah dimiliki dan dikelola masyarakat adat. Selain itu, mereka meminta agar tidak terjadi praktek adu domba, intimidasi dan ancaman kepada masyarakat.
 
“ Hal itu terjadi, karena mereka dinilai telah memasuki kawasan konservasi hutan. Atas usulan Sekda NTB dan jajaranya, pihaknya akan mengajukan persengketaan tanah tersebut ke jalur hukum secara private. Kemungkinan akan dibawa ke Mahkamah Konstitusi (MK),” tegasnya. (ozi)

ShareThis

Comments

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
Image CAPTCHA
Enter the characters (without spaces) shown in the image.
Mollom CAPTCHA (play audio CAPTCHA)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated.


Politik

Fraksi PKS Nilai Poros Tengah Bisa Jadi Kawan dan Lawan

 Mataram (Global FM Lombok)-
 
Fraksi PKS DPRD NTB menilai munculnya wacana pembentukan poros tengah oleh tiga fraksi seperti fraksi PBB, PPP dan fraksi Gerakan Indonesia sebagai sebuah hak politik. Poros tengah yang berencana akan menggalang kekuatan menjelang pilgub tahun 2013 mendatang bisa menjadi kawan atau lawan politik bagi partai lain terutama jika Gubernur dipilih oleh DPRD.

Hadapi Pemilu, PAN NTB Konsolidasi Total

 Mataram (Global FM Lombok)-
 
DPD PAN NTB sedang melakukan sebuah konsolidasi total dari tingkat daerah hingga tingkat masyarakat terkecil yakni RT. Pihaknya akan melaksanakan Musyawarah Cabang (Muscab) ditingkat kecamatan hingga Muswarah Ranting (Musran) ditingkat desa, pembentukan rayon ditingkat dusun serta sub rayon ditingkat RT.

Dipimpin Sujirman, Fraksi PDIP Absen Ikuti Sidang Paripurna

 Mataram (Global FM Lombok)-
 
Sikap keras fraksi PDI P di DPRD NTB semakin terlihat jelas pada saat sidang paripurna DPRD NTB yang digelar Senin (6/02) pagi dengan agenda pandangan umum fraksi-fraksi terhadap dua raperda prakarsa dewan. Seluruh anggota fraksi PDIP absen mengikuti sidang paripurna. Adapun pandangan umum fraksi PDIP diserahkan kepada Sekretaris Dewan tampa dibacakan lansung didalam forum sidang tersebut.

Ekonomi

  • Stok Terbatas, Harga Elpiji dan Semen di NTB Masih Tinggi

     Mataram (Global FM Lombok)-
     
    Setelah harga semen yang terus melambung tinggi beberapa bulan terahir, kini masyarakat kembali dipusingkan dengan harga elpiji 3 kilo gram yang masih limit. Sejumlah pengecer mengaku menjual elpiji sampai 25 ribu per tabung karena limitnya stok yang tersedia. Padahal harga normalnya hanya 15 ribu per tabung. Sementara harga semen sampai saat ini masih berkisar antara 70 sampai 75 ribu rupiah per sak.

  • Iklim Investasi Bagus, Keamanan Daerah Menjadi Penghambat

     Mataram (Global FM Lombok)-
     
    Iklim investasi di provinsi NTB secara umum mengalami kemajuan. Hal itu terlihat dari hasil survey Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD), dimana posisi provinsi NTB yang semua berada di papan bawah telah terdongkrak ke papan tengah. Salah satu yang membuat tren positif investasi daerah yakni factor infrastruktur yang terus mengalami peningkatan.

  • Pelanggan Broadband Telkomsel di NTB Bertambah 40 Persen

    Mataram (Global FM Lombok)-
     
    Penggunaan layanan data berbasis pita lebar (broadband) pelanggan Telkomsel tahun 2011 di wilayah Bali dan Nusa Tenggara meningkat 100 persen dibandingkan trafik layanan data tahun 2010. Di mana, broadband tahun 2010 sebesar 1,8 terabyte per hari menjadi 3,5 terabyte per hari tahun 2011. Khusus di NTB, jumlah pelanggan broadband Telkomsel bertambah 40 persen. Melihat prilaku komunikasi pelanggan Telkomsel di NTB, diperkirakan jumlah pengguna layanan broadband tahun 2012 ini akan meningkat 30 persen.