Skip to Content

Menengok Kehidupan Masyarakat di Kaki Gunung Tambora (3)

Global tokens

Dompu (Global FM Lombok) –
 
Desa Tambora Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu memiliki 5 dusun, yakni Pancasila I, Pancasila II, Garuda, Bhineka dan Sila Dharma. Nama unik dusun layaknya lambang Negara Indonesia itu, diberikan langsung Gubernur NTB, H. Gatot Suherman, saat berkunjung pada tahun 1982 silam. Pemberian nama itu atas dasar penduduknya yang berasal dari beberapa daerah, seperti Bima, Dompu, Sasak, Bali, Sulawesi, Jawa dan lainnya. Komposisinya, sekitar 60 persen berasal dari Bima dan Dompu. Sisanya berasal dari beberapa daerah yang mengikuti program transmigrasi. Dusun Pancasila dijadikan sebagai jalur utama pendakian gunung Tambora. Masyarakat yang tinggal disana sebanyak 618 kepala keluarga (KK) atau sekitar 2.500 orang jiwa. 

 
Kepala Dusun Pancasila Desa Tambora Kecamatan Pekat Kabupaten Dompu, Hasanuddin Usman, mengatakan, sumber utama penghasilan masyarakat, yakni berkebun kopi. Perkebunan kopi yang ada di sekitar kaki gunung Tambora sekitar 1.000 hektar. Hasil perkebunan kopi per hektar sekitar 1 ton per sekali panen per tahun. Masa musim panen kopi biasanya 4 bulan, yakni bulan Juni – September dan pembeli datang sendiri ke pemilik kebun kopi. Tapi akhir – akhir ini, hasil perkebunan kopi sudah mulai berkurang menjadi sekitar 500 – 700 kilogram per hektar per tahun. Hal itu disebabkan makin berkurangnya pohon kopi, sehingga perlu dilakukan penanaman kembali. Tapi, diperlukan waktu sekitar 3 – 5 tahun bagi pohon kopi yang baru ditanam untuk bisa dipanen.
 
Pada tahun 70-an, hampir semua warga sekitar kaki gunung Tambora menjadi pekerja pada perusahaan kopi milik Belanda, yakni PT. Bayu Aji Bina Sena. Saat ini, perusahaan itu sudah ditinggalkan Belanda dan menjadi perusahaan daerah (Perusda). Kendati demikian, masih banyak masyarakat yang kopinya dibeli langsung pembeli dengan harga yang beragam dan terkadang merugikan para petani kopi. Harga kopi di penggilingan sekitar Rp 15.000 per kilogram dan itupun tergantung dari kualitas kopi. Keberadaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sangat diharapkan untuk meminimalisir banyaknya para tengkulak yang mengrogoti para petani. Selain kopi, masyarakat menggantungkan hidupnya dari hasil mente, sawah tadah hujan dan beternak.
 
Selain menggunakan uang, masyarakat masih ada yang menggunakan system barter dalam melakukan transaksi jual beli, sesuai dengan kebutuhan keseharian masing – masing warga. Lokasi pasar dari dusun lumayan jauh dan itupun ada pada hari – hari khusus, seperti minggu. Pasar itu kemudian diberi nama pasar minggu, karena buka hanya pada minggu pagi hingga sore hari. Jalan antar dusun hingga jalan provinsi sebagai jalan utama menuju ke Desa Tambora sepanjang 138 kilometer dalam kondisi 90 persen rusak parah, yakni berlubang, terbelah dan bergelombang. Kondisi jalan itu membuat masyarakat kesulitan memasarkan hasil pertanian, perkebunan dan peternakan setiap hari.
 
Kondisi tanah di dusun Pancasila tergolong subur yang bisa ditanamai berbagai macam tanaman dan buah – buahan, kecuali mangga dan nangka. Kebutuhan air dipasok dari system pipanisasi secara swadaya masyarakat dari lereng gunung Tambora sekitar 7 – 9 kilometer. Masyarakat dan pemerintah telah berulang kali membuat sumur gali dan bor, tapi air tak kunjung ada. Menjelang matahari terbenam, hawa dingin gunung Tambora mulai menyelimuti masyarakat dusun Pancasila. Pada puluhan tahun lalu, saat masih rindangnya hutan lindung di kawasan kaki gunung Tambora, hawa dingin terasa cukup menusuk tulang hingga embun di pohon – pohon ditadah masyarakat dengan ember untuk dijadikan air minum yang menyegarkan.
 
Konstruksi perumahan masyarakat dusun Pancasila masih banyak yang berbentuk rumah panggung dari kayu. Tapi, tidak sedikit pula rumah yang sudah terlihat modern dari masyarakat pendatang. Hampir di setiap KK memiliki speda motor dengan berbagai merk, bahkan ada juga yang memiliki mobil hingga truk. Walaupun pasokan listrik dari PT. PLN masih kurang dengan system 2 hari lampu menyala, masyarakat tampak menikmati program – program televisi menggunakan antenna parabola. Selain itu, sinyal beberapa operator seluler yang tidak bagus, ternyata tidak juga menyurutkan niat sebagaian masyarakat memiliki Hand Phone (HP). Kondisi itu menandakan, masyarakat dusun Pancasila bukanlah masyarakat terbelakang dengan alat elektronik.
 
Anak – anak di dusun Pancasila juga bisa menikmati pendidikan gratis yang dicanangkan pemerintah kabupaten (Pemkab) Dompu, dari tingkat SD hingga SMP. Sekolah untuk tingkat SMA sederajat ke atas belum tersedia disana. Tidak banyak budaya yang dimiliki masyarakat setempat. Untuk kesenian, para ibu rumah tangga (RT) memiliki kelompok music asra fal anam degan lambang mutiara hitam (Kopi) yang sudah dikenal hingga ke Jakarta. Music gambus dan sholawat bernuansa islami itu biasanya dimainkan pada saat acara – acara perkawinan dan hari besar islam, seperti Maulid Nabi Muhammad, SAW. (ozi)

ShareThis

Comments

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
Image CAPTCHA
Enter the characters (without spaces) shown in the image.
Mollom CAPTCHA (play audio CAPTCHA)
Type the characters you see in the picture above; if you can't read them, submit the form and a new image will be generated.


Politik

Setelah Rasionalisasi Anggaran KPU NTB, Honor PPK dan PPS Diusulkan Tetap

 Mataram (Global FM Lombok)-
 
Anggaran untuk KPU NTB yang bersumber dari APBD NTB tahun 2012 memang telah ditetapkan yakni sebesar Rp 8 miliar. Angka ini menurun dari persetujuan awal sebesar Rp10,5 miliar. Pagu anggaran yang dirasionalisasi itu membuat jumlah honor Panitia Pengawas Kecamatan (PPK) serta Panitia Pemungutan Suara (PPS) menjadi turun sekitar 25 persen. Namun belakangan, khusus untuk anggaran honor ini akan diusulkan tetap seperti Pemilu tahun 2009 untuk mengoptimalkan pelaksanaan Pilkada NTB 2013 mendatang.

Tolak Kenaikan BBM, Mahasiswa Gelar “Sidang Paripurna” Di Kantor DPRD NTB

 Mataram (Global FM Lombok)-
 
Aksi unjuk rasa guna menolak kenaikan harga BBM terus berlanjut di Mataram. Jumat (30/03) pagi ratusan mahasiswa yang berasal dari PMII dan HMI MPO Mataram menggelar unjuk rasa di simpang empat BI Mataram serta di kantor DPRD NTB. Karena kesal tidak menemui anggota dewan, perwakilan pengunjuk rasa menggelar “sidang paripurna” di salah satu ruang komisi di DPRD NTB.

Fachri Hamzah : TGB Susah Dikalahkan

 Mataram (Global FM Lombok)-
 
Anggota DPR RI Fachri Hamzah menilai, TGH M Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) susah dikalahkan dalam Pemilukada Gubernur NTB tahun 2013 mendatang. Posisi TGB memang masih sangat kuat karena ia merupakan calon incumbent, ia menjadi tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh politik serta tokoh akademik. Namun  apakah semua gelar  ketokohan itu sudah bvermanfaat bagi rakyat?

Ekonomi

  • Telkomsel Layani 50 Kampung Media di NTB

    Mataram (Global FM Lombok)-
     
    Telkomsel telah melayani 50 Kampung Media yang tersebar di kabupaten/kota se-NTB. Di mana, Telkomsel memberikan perangkat modem internet, router wi-fi dan kartu perdana Flash Unlimited serta Kartu Halo kepada para komunitas Kampung Media. Kampung Media merupakan salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB yang dilaksanakan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) NTB. Jadi program tersebut telah berjalan sejak tahun 2009 silam.

  • Minim, Pengusaha NTB Salurkan Zakat Melalui Bazda

    Mataram (Global FM Lombok) –
     
    Ketua Harian Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) NTB, TGH. M. Anwar, MZ, mengatakan, para pengusaha di NTB sangat minim menyalurkan zakatnya melalui Bazda baik kabupaten/kota hingga provinsi. Selama ini, para pengusaha NTB menyalurkan zakatnya langsung kepada masyarakat sehingga terkadang menimbulkan masalah. Berbeda dengan Bazda sebagai lembaga resmi yang dibentuk pemerintah. Di mana, penyalurannya dipastikan berjalan baik karena mendapat pengamanan ekstra dari kepolisian dan pihak terkait lainnya.

  • Maret – April, Penjualan Kartu AS Lombok Melonjak 176 Persen

    Mataram (Global FM Lombok)-
     
    Head of Telkomsel Branch Mataram, Erwien Kusumawan, mengungkapkan, dalam kurun waktu dua bulan, yakni Maret hingga April 2012, tercatat penjualan kartu AS Lombok meningkat lebih dari 167 persen. Peningkatan penjualan itu berandil besar terhadap peningkatan pendapatan sekitar 50 persen. Dengan peningkatan penjualan itu, memberikan kontribusi terhadap peningkatan jumlah pelanggan kartu AS Lombok lebih seribu persen atau 10 kali lipat.