Perbankan Indonesia Bebas Dari Krisis Global
Mataram (Global FM Lombok)-
Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution, mengatakan, indeks stabilitas sistem keuangan Indonesia turun ke 1,68 (Oktober 2011) dari 1,75 pada awal 2011 atau jauh lebih rendah dari periode krisis 2008 sebesar 2,43. Hal ini tidak terlepas dari peranan perbankan nasional yang menjalanakan fungsinya semakin baik. Perbaikan kondisi permodalan dan konsistensi penerapan kehati-hatian bank tampaknya cukup efektif dalam menahan terjadinya pemburukan kondisi industri secara drastis.
“ Ketangguhan stabilitas sistem keuangan Indonesia dapat teruji di tengah persistensi gejolak pasar keuangan global selama 2011. Stabilnya sistem keuangan Indonesia ini tidak lepas dari peranan dan kemampuan perbankan Indonesia yang semakin baik dalam menyerap risiko instabilitas dengan tetap menjalankan fungsi intermediasinya,” Darmin Nasution, dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Pemimpin BI Matara, H. M. Junaifin, saat pertemuan tahunan perbankan tahun 2011 di Hotel Grand Legi Mataram, Senin (19/12).
Kondisi ini tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) yang secara grosstercatat hanya 2,7 % (Oktober 2011), jauh dibawah indicative threshold sebesar 5 %, sementara rasio kecukupan modal (CAR) cukup tinggi mencapai 17,2% (Oktober 2011). Langkan penerapan kehati-hatian perbankan terkait permodalan tampaknya cukup efektif dalam menahan terjadinya pemburukan kondisi industri secara drastis.
Darmin menambahkan, fungsi intermedias perbankan juga telah berjalan sebagaimana yang direncanakan sebelumnya. Ini artinya perbankan telah konsisten melaksanakan kebijakan dalam rangka memperbaiki sektor perbankan. Pada tahun 2011 saja pertumbuhan kredit semakin berkualitas sejalan dengan meningkatnya penyakuran kredit kepada sektor produktif, tercermin dari pertumbuhan kredit investasi yang mencapai 31% (yoy) per Oktober 2011.
Industri perbankan juga mampu meraup keuntungan yang sangat besar, bahkan paling besar di antara ngara-negara ASEAN. Pada Oktober 2011, tingkat Return On Asset(ROA) industri perbankan mencapai 3,11%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara dikawasan yang rata-rata hanya mencapai 1,14%. Untuk perbankan syariah, menurut release BMB Islamic, sebuah lembaga konsultan bisnis dan manajemen yang berbasis di London, industri keuangan syariah Indonesia menduduki posisi ke-4 di dunia setelah Iran, malaysia, dan Arab Saudi. (ozi)

Comments
Post new comment