Tahun 2011, Peruri Targetkan Keuntungan Rp 232 Miliar
Jakarta (Global FM Lombok)-
Kepala Biro Verifikasi Uang Kertas Perum Peruri, Edison, mengatakan, pihaknya menargetkan keuntungan dari hasil percetakan uang dan percetakan surat serta dokumen negara, baik dalam dan luar negeri mencapai Rp 232 miliar di tahun 2011 ini. Tahun 2010 lalu, keuntungan Peruri mencapai Rp 204 miliar. Peruri sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memang harus memberikan keuntungan yang sebesar-besarnya untuk menambah devisa Negara.
“ Di mana, dari hasil keuntungan tersebut sekitar 55 persen akan diserahkan ke Negara dan sisanya sebagai ongkos produksi,” kata Edison, bersama Pemimpin Bank Indonesia (BI) Mataram, H. M. Junaefin, saat menerima kunjungan Forum Wartawan Ekonomi dan Bisnis (Forta Ekbis) NTB, di Peruri Karawang, Jawa Barat, Jum’at (11/11).
Edison menerangkan, selain mencetak uang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sesuai dengan pemesan BI, Peruri juga menerima pencetakan uang dari beberapa Negara lain di dunia. Tidak saja uang, Peruri juga mencetak barang cetakan berharga, surat berharga dan barang cetakan lainnya. Beberapa diantaranya, pita cukai rokok, perangko, materai, materai leges, paspor, visa, buku nikah, ijazah, sertifikat tanah, saham, nota/warkat perbankan, kutipan akta, KTP, dan lain sebagainya.
“ Kami memiliki bidang pemasaran produk luar negari dan dalam negeri. Luar negeri bertugas mencari pasar pencetakan uang di luar negeri. Selanjutnya, dalam negeri mencari pencetakan untuk surat dan dokumen berharga dari pemerintah maupun pihak swasta. Biasanya pencetakan itu ditenderkan. Saat ini terdapat sekitar 28 perusahaan sejenis Peruri. Tapi, tender selalu dimenangkan Peruri,” terangnya.
Perum Peruri didirikan tahun 1971 dan merupakan gabungan dari PN Arta Yasa yang mencetak uang logam dengan PN Perkaba yang mencetak uang kertas. Berdasar Peraturan Pemerintah (PP) No. 34 tahun 2000, Peruri ditugaskan mencetak uang rupiah untuk BI dan barang serta dokumen Negara lainnya. Peruri Karawang, Jawa Barat sendiri dibangun tahun 1995 dan mulai beroperasi tahun 2005 yang diresmikan Presiden RI. Dari 202 hektar lahan yang disedikan, sekitar 35 persen saja yang sudah dibangun. (ozi)

Comments
Post new comment