Usulan Perpanjangan ‘’Runway’’ BIL Ditangguhkan
Mataram (Global FM Lombok) -
Keinginan Pemprov NTB untuk menambah panjang runway (landasan pacu) Bandara Internasional Lombok (BIL) tampaknya masih harus dipendam dulu. PT. Angkasa Pura masih menangguhkan usulan itu hingga aktivitas penerbangan di BIL benar – benar membutuhkan perpanjangan runway. Anggaran pembangunan BIL juga terus membengkak.
Anggota Komisi III DPRD NTB, H. Abdul Hadi, SE, MM, yang dikonfirmasi Suara NTB, Jumat (11/12) kemarin menjelaskan bahwa pihaknya telah bertemu dengan PT. Angkasa Pura untuk membicarakan permintaan penambahan panjang runway BIL. Namun, jawaban dari Angkasa Pura tampaknya kurang menggembirakan. Menurut Angkasa Pura, runway BIL yang panjangnya mencapai 2.750 meter itu sudah cukup bagus untuk melayani penerbangan rute Eropa, Asia maupun Timur Tengah. “Dengan panjang 2.750 itu, jenis pesawat terbesar saja sudah bisa masuk,” tandas Hadi.
Angkasa Pura mempertimbangkan bahwa penambahan panjang runway tentu bermakna penambahan investasi. Karenanya, meski saat ini belum disetujui, namun di kemudian hari peluang untuk menambah panjang runway bisa saja terealisasi jika aktivitas penerbangan dan parkir pesawat di BIL semakin tinggi.
Saat ini, ujar Hadi, pembangunan BIL ternyata mengalami pembengkakan anggaran. Total anggaran pembangunan awalnya mencapai Rp 790 miliar. Dari total dana itu, Rp 640 miliar ditanggung oleh pemerintah, 110 ditanggung oleh Pemprov NTB dan Rp 40 miliar dari Pemkab Loteng.
Total anggaran itu kini membengkak menjadi Rp 802 miliar. Menurut Hadi, hal ini dikarenakan harus ada tambahan untuk pembangunan sejumlah infrastruktur penunjang Bandara seperti masjid dan infrastruktur penunjang lainnya.
Selain belum menyanggupi penambahan runway, Angkasa Pura bahwa keinginan Pemprov NTB agar dilakukan pendaratan perdana di BIL pada 17 Desember 2009 bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Pemprov NTB belum bisa dilakukan. Hadi mengungkapkan, dalam hitungan Angkasa Pura, hal itu belum bisa dilakukan karena masih membutuhkan persiapan yang cukup. Catatan Angkasa Pura, per akhir November, realisasi fisik pembangunan BIL sudah mencapai 73,13 persen.
Perkiraan Angkasa Pura, pendaratan perdana di BIL baru bisa dilakukan pada akhir Desember 2009. Disampaikan pula bahwa Presiden akan meresmikan proyek BIL ini pada saat proyek rampung di bulan Januari 2010 mendatang. Menurut Angkasa Pura, peresmian proyek BIL ini akan dimasukkan sebagai bagian dari program 100 hari Kabinet Indonesia
Bersatu jilid II.
Meski akan diresmikan Presiden, namun sejumlah persoalan masih menyertai pembangunan BIL tersebut. Permasalahan pertama adalah masalah keamanan. Hingga saat ini Angkasa Pura masih merasakan adanya intimidasi dari warga sekitar BIL. Menyikapi persoalan ini, sebenarnya sudah diupayakan untuk melibatkan warga setempat dalam proyek
tersebut. Namun hasilnya tidak menggembirakan.
“Nanti sebaiknya diupayakan agar warga setempat dipekerjakan pada posisi yang skillnya pas,” ujar Hadi.
Masalah berikutnya adalah belum selesainya jalan akses menuju bandara. Hadi menerangkan, rute akses itu belum cukup lancar untuk mengakomodir kelancaran transportasi terutama dari Kota Mataram menuju BIL. Angkasa Pura pernah mencoba perjalanan dari Kota Mataram ke lokasi BIL. Hasilnya, ternyata dibutuhkan waktu perjalanan sekitar 2 jam untuk mencapai lokasi. Artinya, dengan asumsi penerbangan jam 06.00 pagi,
maka warga Kota Mataram yang ingin ke BIL harus berangkat sejak pukul 04.00 dini hari.
Menurut Hadi, persoalan ini terjadi karena terjadi kemacetan di pasar tumpah yang ada di daerah Penujak. “Jalan dari Kediri ke Penujak itu sebenarnya sudah oke. Tapi harus diantisipasi bagaimana kelancaran transportasi tidak terhambat dengan keadaan pasar,” tandas Hadi.
Persoalan terakhir adalah drainase yang dibangun oleh Pemkab Loteng. Angkasa Pura mendapati bahwa proyek drainase itu ternyata belum rampung. Jika tak segera dirampungkan, hal ini dikhawatirkan akan membuat operasional dan kenyamanan di BIL tidak maksimal. (aan)

Comments
Post new comment